Rabu, 01 Juni 2016

Ed Wood (1994), Review dan Sinopsis

IMDB Rating : 7.9 Metascore : 70/100 RottenTomatoes : 92% demammalam rating : B+ Genre :  Biography, Comedy, Drama Director : Tim Burton Writter : Rudoph Grey (Book), Scott Alexander, Larry Karaszewski Stars : Johnny Depp, Martin Landau, Sarah Jessica Parker, Bill Murray, Patricia Arquette Country : USA Language : English Release Date 7 October 1994 (USA), Filming Locations : USA Runtime : 127 minutes. Budget : $18.000.000,-  Color : Black and White Rate : R.  Production Co. Touchstone Picture. Won 2 Oscar (Best Supporting Actor – Martin Landau, and Best Make Up)

Sinopsis Ed Wood (1994)
Berkisah tentang seorang perjalanan hidup Edward D. Wood Jr, sineas amatir yang mendapatkan gelar Sutradara Terburuk Sepanjang Masa, atas karya-karyanya seperti Glen or Glenda (1953), Bride of Monster (1955) dan Plan 9 from Outer Space (1959)


Review Ed Wood (1994)

Ed Wood ialah sebuah drama komedi biografi karya dari Tim Burton, yang diadaptasi dari karangan karya Rudoplh Grey yang berjudul Nightmare of Ectasy. Pada umumnya film yang diangkat dari kisah nyata, biasanya diangkat tentang kehidupan atau kesuksesan seseorang, misalnya kisah Steve Jobs di film Steve Jobs (2015), yang mengambarkan keras kepala dan keangkuhannya Steve Jobs dalam usaha menjadikan Apple sebagai produk yang mendunia, atau menceritakan perjuangan heroik, seperti T.E. Lawrence di film Lawrence of Arabia (1962). Apa jadinya sebuah film yang dibuat dari kisah seorang yang dilabeli sebagai Worst Director of All Time ? adakah pelajaran yang bisa dipetik oleh para penontonnya ? atau hanya sebatas komedi satir saja.

Film ini dibuka dengan opening yang biasa muncul dari film-film karya Edward D Wood Jr., petir-petir menyambar, suara musik latar dan tentu saja narasi ala Criswell yang dilakukan oleh Jeffery Jones seperti opening di film Plan 9 from Outer Space, yang menjadi salah satu “maha karya”nya. Ed Wood dikemas dengan konsep hitam putih, Tim Burton sukses memberikan visualisasi pada para penonton tentang gambaran industri film di jaman dahulu dengan apik dan tentu saja menjadikan film ini tampak mempunyai nuansa yang sama dengan film Ed Wood.

Aspek teknisnya oke, salah satu keunggulan dari film ini terletak di Make Up Departementnya, jika kita pernah menyaksikan film karya Ed Wood sebelumnya (minimal Plan 9 from Outer Space), maka seolah kita akan menyaksikan para karakter hidup kembali, seperti Bela Lugoasi (diperankan Martin Landau), Vampira, Criswell, Bunny dan Tor Johnson, semua sangat mirip. Apalagi dengan kualitas akting yang baik dan susana hitam putih yang mendukung, siapapun yang menontonya seolah  merasa diperankan oleh tokoh aslinya, bukan orang lain. Mungkin, inilah salah satu alasan Academy Awards menganugerahkan Oscar di Katagori ini, suatu pelajaran bagi kita Make Up yang simple dan realistis lebih diapresiasi daripada Make Up dengan budget super besar dan super tebal (seketika, saya teringat pada film The Iron Lady, yang dengan polesan make up luar biasa mentransformasi Merly Streep menjadi Margareth Thatcher)

Seperti yang saya katakan di paragraf sebelumnya, keunggulan Film ini terletak dari akting para pemerannya. Johnny Depp yang sekarang ini terjebak dengan karakter-karakter bermake up tebal, dengan akting seadaanya. Mungkin, perannya sebagai Ed Wood ini adalah salah satu akting terbaik sepanjang hidupnya, pembawaannya yang tak menyerah dan putus asa menciptakan sosok aneh dan menghibur dari wajah dan matanya, kita bisa melihat tragis dan tawa dalam satu waktu bersamaan. Sarah Jesicca Parker sebagai Dolores dan Patricia Arquette sebagai Kathy O’Hara tidak boleh dilupakan sebagai pasangan dari Ed Wood, menampilkan akting terbaik meski hanya muncul sebentar, dan tentu saja jangan lupakan Bill Murray, kehadirannya di film ini layak dianggap sebagai scene stealer.

Penampilan terbaik seseungguhnya di Film ini jatuh ke tangan Martin Landau, yang berperan sebagai Bela Lugosi. Fakta ironisnya ialah sepanjang karir filmnya membintangi ratusan film, Bela Lugosi tidak pernah mendapatkan penghargaan apapun sepanjang karirnya, dan Martin Landau yang berperan sebagai Bela Lugosi sukses memborong penghargaan bergengsi seperti Oscar, Golden Globe dan SAG Awards. Melihat Martin Landau di film ini seolah kita melihat Dracula hidup kembali, Landau sukses memberikan visualisasi pada para penonton tentang kerapuhan yang dialami Bela di penghujung karirnya, kehebatan akting dan seramnya sosok Bela Lugosi itu tersendiri, suatu pertanyaan bagi saya apa observasi yang dilakukan Martin Landau, sehingga dapat melakukan impression yang sama persis dengan seorang Bela Lugosi, bahkan logat rumanianya khas Bela juga sukses di tiru oleh Martin Landau, maka tak heran kalau gelar Oscar untuk kategori Best Supporting Actor jatuh ketangan beliau.

Meskipun bergenre Biografi, keakuratan cerita di film ini masih dipertanya, beberapa adegan yang terjadi dibuat terlalu didramatisir seolah Tim Burton takut film ini kehilangan sentuhan komedinya, padahal sisi menghiburnya di film ini menurut saya terletak dari kisah nekadnya Ed Wood dalam proses pembuatan filmnya, yang terkenal dengan adegan asal jadi, satu pengambilan gambar dalam tiap adegan, visualisasi yang serampang.

Ed Wood, bagi saya ialah sebuah film yang menampar fenomena American Dream di Hollywood, berapa banyak film yang berkisah tentang seseorang yang from zero to hero, dengan semangat, tekad, dan kerja keras maka akan ada kesuksesan di akhirnya. Ed Wood mencoba memberitahu kita teruslah berusaha, dan berjuang jika memang kamu tidak punya bakat dan uang maka kelak kamu akan gagal. Ya Allah, tragis memang tidak ada yang lebih sedih ketika melihat seorang yang bekerja keras dan tulus namun terus menderita kegagalan dan kegagalan dalam hidupnya.

Pelajaran pentingnya ialah :
Anda harus tau kapan anda menyerah dan menyadari apa yang anda lakukan memang bukan keahlian dan diluar kemampuan anda.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar