Senin, 23 Mei 2016

Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016), Review dan Sinopsis

Sutradara : Riri Riza, Naskah : Mira Lesmana
Pemain : Nicholas Saputra, Dian Sastrowardoyo, Titi Kamal, Sisi Priscillia, Adina Wirasti, Dennis Adhiswara

Sinopsis
Cinta, Karmen, Maura, Milly, ,mereka merencakan reuni untuk menyambut Karmen yang baru pulang dari rehabilitasi. Tanpa pasangan mereka berangkat liburan ke Yogyakarta. Sementara di Amerika, Rangga mendapatkan tamu jauh dari Indonesia, adik tirinya yang memintanya pulang untuk menemui ibu kandung Rangga yang sedang sakit, di tengah kegaulan hati, Rangga memutuskan kembali ke Indonesia. Alam berkehendak, Cinta dan Rangga mendapatkan pertemuan tidak terduga di Yogyakarta, namun Cinta tidak lagi sama.

Review
14 Tahun, waktu yang dibutuhkan untuk para penggemar Ada Apa Dengan Cinta untuk mengetahui bagaimana kisah menggantung dari film pertamanya, apakah waktu penantian yang lama ini ? bisa membayar rasa penasaran para fanbase AADC Jilid I, saya tidak akan membahas itu kepuasan itu teramat relatif dengan 3,5 Juta Penonton yang sudah menyaksikan Film ini (sampai tulisan ini terbit), seolah jadi jawaban untuk pertanyan ? How About This Movie ?

Saya menonton film ini tanggal 30 April, setelah melalu perdebatan panjang dengan pacar saya, saya inigin menonton Civil War dan you knowlah wanita. alam sadar saya berpikir, ya sudahlah mengalah toh juga film sekuel indonesia gag ada yang bagus (hanya pendapat), Civil War juga masih bisa bertahan 2 minggu lagi, tapi AADC kan belum tentu (dalam hati), saat itu saya cenderung menganggap remeh.

Ketika film berjalan, penonton diajak bernostalgia sedikit dengan pengenalan sekilas sepintas dengan geng SMA cinta, sebuah prolog yang menurut saya baik, coba pikir ? ketimbang mengenalkan satu persatu tokoh ketika film berjalan memasuki cerita, kenapa tidak dikenalkan di awal ? dengan konsep kumpul-kumpul ala orang indonesia? selain hemat durasi juga tidak menjemukan bagi para penonton,

Konsep premis yang diperlihatkan di AADC 2 menarik memang, dari awal saya sebenarnya bingung, bagaimana cerita akan dikembangkan mengingat jarak antar filmnya memang amat jauh, 14 tahun apalagi di film awal diceritakan Rangga dan Cinta memang berpacaran, bukan seperti Celline dan Jesse di Trilogi Before, yang memang terlibat cinta satu malam untuk selamanya, tanpa saling mengenal satu sama lain sebelumnya. Tapi Cinta dan Rangga udah kenal lama loh? zaman juga udah ada email, handphone, surat atau apalah. bagaimana mereka putus ?

Jawanbannya memang diberikan di film ini, meski jawaban yang diberikan di film ini rada klise dan tidak terkesan alami ala orang pacaran, menurut saya akan lebih baik perpisahan Rangga dan Cinta yah memang dibuat senatural mungkin, misalnya mereka saling melupakan satu sama lain, dikarenakan minimnya pertemuan dan jauhnya jarak memisahkan berdua. eeakk.

AADC 2 terasa nikmat dinikmati karena kombinasi yang sangat menarik dari para castingnya, jika ada best cast di piala FFI nanti, sepertinya AADC 2 layak dapat piala, selain itu pengambilan gambar yang dilakukan sangat memanjakan mata, seolah kamera mewakili pandangan penonton untuk melihat apa yang dilakukan, dirasakan pemeran utama dalam film tersebut.

Para penonton patut berterima kasih pada dua pemeran utama, yang memang dirindukan aktingnya, Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo. Nico kembali membius wanita indonesia dengan tatapan sendu penuh penyesalan, dan sifat cuek ala rangganya, Dian Sastro ? ah saya pikir tidak perlu diragukan lagi, andai dia jadi  janda sekarang jutaan lelaki indonesia siap tumpah darah menyembuhkan hatinya yang luka, salah satu yang menarik di Film ini adalah melihat ekspresi ataupun mimik muka yang dilakukan oleh Dian Sastro, menggambarkan wanita yang membenci, merindu, sekalipun kangen, permainan ekspresi wajah Dian Sastro dan Nico dalam couple scene mereka di sepanjang film menjadi daya tarik tersendiri, dan nilai tambah bagi saya setelah melihat buruknya adegan percakapan yang dilakukan mereka berdua (seperti membaca puisi rasanya).

Yang mengecewakan dari film ini, tentu saja sama seperti film Indonesia pada umumnya, yaitu penempatan PRODUK PLACEMENT (baca sponsor), yang terkesan dipaksa atau tidak mengalir dalam cerita sehingga saat scene dilakukan penonton akan bergugam "ah,, sponsor kali"

Overall, tidak ada yang sempurna setiap film pasti ada nilai plus dan minusnya, namun AADC 2 lagi-lagi bakal menjadi tolak ukur atau era baru perfilman indonesia seperti saat film pertamanya yang sukses membuat tren film remaja, AADC 2 meenjadi obat rindu para penonton Indonesia setelah dimasa sekarang dibanjiri film komedi garing dengan naskah seadaanya, yang diperankan oleh para komedian tunggal indonesia (baca Stand Up Comedy)









Tidak ada komentar:

Posting Komentar