Rabu, 02 Maret 2016

Spotlight (2015), Review dan Sinopsis

IMDB Rating : 8.2 Metascore : 93/100 RottenTomatoes : 96% demammalam rating : A+ Genre : Biography, Drama, History Director : Tom McCarthy Writter : Josh Singer, Tom McCarthy  Stars : Mark Ruffalo, Michael Keaton, Rachel McAdams, Liev Schreiber,  John Slattery, Stanley Tucci, Brian d'Arcy James Country : USA Language : English Release Date : 17 February 2016 (Indonesia), Filming Locations : USA & Canada Runtime : 128 minutes. Budget : $20.000.000,-  Color : Color Rate : R.  Production Co. Anonymous Content, First Look Media, Participant Media. Oscar Winners : 2 (Best Motion Picture of the Year and Best Writing, Original Screenplay)

Sinopsis Spotlight

Di Tahun 2001, Boston Globe kedatangan seorang editor baru, Marty Baron (diperankan Liev Schreiber) . Baron bertemu dengan Walter “robby” Robinson (diperankan Michael Keaton), editor dari rubik investigasi kriminal bernama Spotlight, untuk membuat sebuah investigasi berita tentang dugaan kasus pencabulan anak-anak oleh pendeta di gereja katholik di kota Boston.

Review Spotlight 

Sudah lama sekali rasanya tidak melihat ada drama investigasi dibalut bungkusan media dalam sebuah karya cinema, menonton Spotlight (2015) mengingatkan saya kepada memori lama terhadap beberapa film dengan tipe yang sama seperti Zodiac (2007), yang berkisah tentang pencarian tersangka pembunuhan perantai, lalu The Insider (1999) yang berkisah tentang pengungkapan skandal industri tembakau, dan yang paling lama sekali All The President’s Men (1976), tentang skandal terbesar yang terjadi di amerika).

Reporter Asli di Tim Spotlight Boston Globe
(dari kiri, Ben Bradlee Jr., Michael Rezendes, Sacha Pfeiffer and Walter Robinson)
Film ini dibuat berdasarkan kisah nyata, dari sebuah rubrik investigasi tertua di Koran Boston Globe dan juga Amerika Serikat, dengan nama Spotlight, yang ketika itu memuat pengungkapan hasil investigasi tentang bagaimana terjadinya skandal pencabulan anak dibawah umur selama 30 tahun dilakukan oleh para pendeta di Gereja Katholik yang selama ini ditutupi oleh pihak gereja, dengan seri artikel ini tim Spotlight saat itu mendapatkan penghargaan Pulitzer Prize untuk kategori Public Service di tahun 2003.

Mungkin saya bukan yang pertama mengatakan mengatakn ini, tapi Spotlight ialah film jurnalistik terbaik abad ini menurut saya (no offense untuk penggemar All The President’s Men), Spotlight dibuat tanpa adegan popcorn Movie tanpa adegan aksi, tanpa adegan percintaan, tidak ada adegan yang memacu adrenalin, spesial efek, ataupun make up yang istimewa. namun sorot mata dan pikiran kita akan diajak berpikir tentang getirnya permasalahan yang diangkat di film ini. Kekuatan film ini pertama terletak dari Naskah yang dbuat oleh Josh Singer dan Tom McCarthy (merangkap sutradara), daya magis film ini keluar dengan hidupnya karakter yang ada lewat perkataan yang bergaya cerita naratif dan terkesan wajar tanpa berlebihan, kedua saya sangat mengapresisasi music score karya Howard Shore yang menjadi latar disepanjang film ini, diumpamakan diam tapi mematikan.

Michael Keaton, Liev Schreiber, Rachel McAdams, Mark Ruffalo,  John Slattery, Brian d'Arcy James
Selain kedua faktor yang saya utarakan tadi, ada faktor ketiga yang paling penting, kita punya naskah yang keren, musik latar yang bagus, dan juga jajaran casting yang pemain yang mampu menerjemahkan naskah dan instruksi sutradara dengan amat baik. Jika ada kategori Best Ensemble Cast (Kategori Akting secara Kelompok), mungkin Spotlight sudah memenangkan kategori tersebut. Spotlight mempersatukan para aktor kelas B+ (diantara kelas A dan B, maksudnya), seperti Mark Ruffalo, Michael Keaton, Rachel McAdams, Liev Schreiber,  John Slattery, Stanley Tucci, Brian d'Arcy James dalam satu film, membagi mereka dalam porsi yang pas dan berimbang sehingga bisa saya katakan tidak ada aktor utama dalam film tersebut, tapi spotlight lah aktor utamanya. 

Michael Keaton kali ini sukses membuktikan bahwa dia memang aktor watak berkelas setelah tahun lalu mendapat nominasi best actor di film Birdman, Mark Ruffalo sekalipun terlibat adegan adu mulutnya tidak merubahnya menjadi makhluk hijau raksasa, juga membuktikan ia bukan sekedar aktor yang terjebak oleh karakter superhero, dan satu-satunya pemeran utama wanita di film ini Rachel McAdams is so always beautifull and youth, juga menunjukan bahwa bisa keluar dari karakter-karakter mainstrem, seorang kekasih yang paling sering dimainkannya. Intinya, para cast atau pemain bisa memberikan tekanan yang sama dirasakan kepada penonton tentang suatu kebenaran dari peristiwa, dan bagaimana dalam melakukan tindakan selanjutnya, apakah berusaha menutupi kebenaran, memastikan atau mencari tahu lebih lanjut, memberitakan sepotong demi sepotong berita tanggung, mengungkap secara penuh dan menyeluruh serta kondisi yang dihadapi di kehidupan nanti ketika berita yang menghebohkan ini dipublikasikan. Saya jamin, ketika anda menontonnya anda pasti merasakannya.     

Spotlight ialah film yang wajib anda tonton untuk mengukur seberapa berkualitasnya film yang anda tonton. Selain itu, Spotlight menunjukan kita sebuah contoh nyata bagaimana pentingnya investigasi dalam sebuah berita yang berkualitas itu dibuat. Di era digitalisasi ini, Spotlight membawa kita jauh ke masa lalu (padahal Cuma 14 tahun lalu), dan menyadarkan kita apakah investigasi dalam jurnalistik perlahan akan hilang seiring cepatnya dan mudahnya orang membuat dan mendapatkan berita atau informasi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar