Minggu, 25 Oktober 2015

RocknRolla (2008), Review dan Sinopsis

IMDB Rating : 7.3 Metascore : 53/100 demammalam rating : B+ Genre : Action, Crime, Thriller. Director : Guy Ritchie  Writter : Guy Ritchie  Stars : Gerard Butler, Tom Wilkinson, Idris Elba, Mark Strong, Thandie Newton, Tom Hardy  Country : UK  Language : English, Russian Release Date : 26 October 2001 (USA), Filming Locations : London, England Runtime : 114 minutes.  Color : Color.  Rate : R.  Productin Co.  Warner Bros. (presents) Dark Castle Entertainment Toff Guy Films (in association with) StudioCanal (financed in association with) (as StudioCanal).

A story of sex, thugs and rock 'n roll.

Sinopsis RocknRolla (2008)
Bisnis properti berkembang dengan pesat di London, para pebisnis selalu tertarik dengan keuntungan yang cepat dan potensi nilai barang yang semakin naik tiap tahun, dan tidak ada satu bangunan pun yang dibangun tanpa diketahui oleh Lenny Cole (Tom Wilkinson), seorang bos mafia London yang menjanjikan kemudahan urusan dalam transaksi di bisnis ini. 

Salah satunya, Uri Omovich seorang pengusaha properti dari Rusia yang menggunakan jasa Lenny, sebagai itikad baik Uri meminjamkan Lukisan pembawa keberuntungannya untuk Lenny, yang tiba-tiba saja menghilang dari dinding rumahnya. Sementara itu grup penjahat lokal, The Wild Bunch selalu berhasil merampok uang transaksi milik Uri yang seharusnya diberikan ke Lenny. Disisi lain kota London,  Johnny Quid, seorang rocker lokal dan pengguna narkoba akut yang juga dijuluki RocknRolla dilaporkan tewas tenggelam merupakan perantara untuk mengungkap skandal mafia besar di kota London


Review RocknRolla (2008)
Ketika pertama kali saya menonton Snacth. (2000), karya Guy Ritchie sepertinya saya langsung jatuh hati dengan karya-karyanya. Saya pun mentasbihkan diri menjadi fans-nya lewat dua film pertama Ritchie Snacth. (2000) dan Lock, Stock and Two Smoking Barrels (1998). Ritche selalu menghasilkan karya film terbaiknya dengan konsep multi plot bertele-tele but it’s f#cking great movie  seperti kita menonton bermacam-macam video tapi saling berikatan satu sama lain.

Banyak yang menyamakan film Guy Ritchie dengan karaya Quentin Tarantino, saya pikir mereka punya selera yang berbeda, mereka sama dengan satu hal yaitu sering menggunakan skenario dengan multi plot tetapi dengan berbeda gaya. Quentin, senang menciptakan dialog-dialog nyeleneh, njelimit, bertele-tele (atau apapun istilahnya), ditambah dengan exploitation seperti darah dan adegan sex didalamnya. Dan Ritchie, senang dengan konflik bertele-tele, dan minim darah dan adegan sex (spoiler. Bahkan adegan bercinta One Two dengan Stella dibuat dengan ah.. sudahlah).

Idris Elba (Mumbles), Gerard Butler (One Two), Handsome Bob (Tom Hardy)
The Wild Bunch
Sepertinya Guy Ritchie memang hobi menumpuk segrombolan aktor dan aktris yang tidak bisa di pandang sebelah mata, jika di Lock, Stock and Two Smoking Barrels (1998), berjubel aktor-aktor papan atas inggris (include Jason Stanham, sebelum jadi anak emas hollywood), di Snacth. (2000), Brad Pitt dan Benico del Toro bergabung. Kali ini, di RocknRolla nama-nama beken asli produk UK, seperti Gerard Butler (300), Idris Elba (Thor), Tom Wilkinson (Michael Clayton), Thandie Newton (Crash) dan tentu saja paling mengejutkan ialah Tom Hardy (The Dark Night Rises). Untuk mempertemukan para aktor ini dengan cerita, Ritchie punya formula unik, yaitu dengan menjadikan sebuah benda sebagai konflik cerita, senapan antik di Lock, Stock and Two Smoking Barrels, Berlian di Snatch dan lukisan pembawa keberuntungan di RocknRolla.

RocknRolla meski sejatinya bergenre action-crime ternyata menghadirkan karakter-karakter unik dan menghibur, bahkan dari nama saja sudah sangan menghibur seperti geng The Wild Bunch yang beranggotakan One Two (Gerard Butler), Mumbles (Idris Alba), dan Handsome Bob (Tom Hardy). Karakter Uri, sang pengusaha rusia juga sepertinya sangat terinspirasi dari sang pemilik Chelsea, Roman Abrahamovic (didukung dengan beberapa kali scene Stadion Wembley saat pertemuan dikantor uri), ada juga karakter Lenny Cole seorang bos mafia yang punya kebiasan unik dengan menyiksa para musuhnya dengan menenggelamkan (mungkin dicelupkan) ke laut dan dimakan bersama tiram, dengan koneksinya ke segala level pemerintahan seolah-olah tidak ada satupun bangunan yang berdiri di London tanpa izin Lenny (sepintas fenomena ini mirip dengan yang terjadi di Indonesia, ketika birokrasi semakin ribet maka akan lahir unit usaha baru berbasis permafiaan dengan penawaran kemudahaan dalam urusan).

Kesimpulan.

RocknRolla menghadirkan kembali gaya Ritchie yang sudah lama hilang sejak pernikahannya dengan Maddona, meski cerita atau plot yang mirip dengan film-film awal yang membesarkan namanya setidaknya bisa mengobati kerinduan para penggemar terhadap filmnya. RocknRolla sangat saya sarankan buat para pembaca yang juga suka karya Ritchie seperti Snatch (2000) dan Lock, Stock, and Two Smoking Barrels.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar