Jumat, 04 September 2015

Selalu ada di Hati

Setelah kurang lebih 2 tahun sekian ratus hari, akhirnya saya kembali ke suatu tempat dimana pola pikir dan sikap saya ditempa, yaitu kota Padang, tepatnya distrik Universitas Andalas, Fakultas Peternakan. Hampir 4,5 tahun saya tinggal, bermain dan menimba ilmu di ranah minang, tempat lahirnya para orang-orang hebat, para pemikir ulung (okelah, meski Bung Hatta, Buya Hamka, Tan Malaka, bukan lahir di kota padang setidaknya mereka orang minang).

Sejujurnya tidak pernah terpikir saya akan kembali berkunjung ke sini, apalagi singgah ke kampus setelah hampir 3 tahun, banyak pertanyaan yang mengganjal di hati saya : “seperti apa kampus sekarang ?”, “apa masih ada yang ingat dengan saya ?”, “dosen pembimbing saya masih kenal atau tidak”, “apakah saya masih tetap tampan dan charming seperti dulu atau tidak”

Oh, iya misi khusus saya kembali ke Padang, (lupa di jelaskan) ialah mengikuti serimonial Wisuda gebetan saya (nama dirahasiakan), dan misi tak resmi saya antara lain ialah :

-          Berjumpa dengan ibu kost onang “basecamp”
-          Konsultasi dengan dosen pembimbing
-          Berjumpa dengan Kurnia Hidayat dan Sugandi Pramana
-          Dan Makan dendeng lambok di Cafe Sagita Peternakan.

Saya berkangkat ke Padang dengan menumpang pesawat Lion Air JT 020 KNO-PDG, berangkat jam 6 pagi, alhamdulilah dengan baik hati ayah saya mau mengantar saya ke bandara, saat siang jarak bandara dari rumah saya bisa 2 jam perjalanan, dengan macet dan brutalnya para pengendara di kota medan atas dasar itulah kami sepakat berangkat jam 3 pagi dengan estimasi tiba sekitar setengah 5 dan check in tepat waktu.

Kuala Namu International Airport, bandara yang menggunakan nama lokal tapi bercita rasa internasional, cantik dan bergaya.

Mungkin saat merencanakan itu, kami lupa bahwa JAM 3 PAGI mustahil terjadi kemacetan dan akhirnya jam start dari rumah 03.11 kami tiba di bandara 0.39 hanya 28 menit di tempuh dengan Mobil Panther milik LSM Petra, pasti heran ? sebagai anak saya biasa aje, saya kenal ayah saya dia penggemar olah raga pacu F1, dan favoritnya ialah sang legenda, Artyon Senna juara 3 kali F1 yang tewas di Grand Prix San Marino jadi gag heran lah dengan kumis tebal ayah saya kami bisa tiba terlalu cepat. (atau jangan-jangan ini akal2an ayah saya saja, agar bisa balapan liar di subuh hari, hanya Allah yang tau).

Karena tiba terlalu dini, ayah saya berbaik hati menemani saya di bandara Kuala Namo kami cari tempat makan dan hanya satu yang baru buka jam segitu, kami memutuskan makan, makanan yang sederhana saja tapi harganya kampret bukan main, 2 porsi nasi + ayam + daun ubi tumbuk, harganya setara 4 porsi paket hemat BIG MAC Mc Donalds, SUPER Sekali tapi sudahlah, terbayang mending tadi sebelom berangkat pesan antar dulu.

Syukur tidak ada delay, penerbangan lancar jaya, take offnya juga oke, hanya sayang sekali lancarnya penerbangan diwarnai dengan landing yang kurang cakep cendrung kasar, bahkan saya sampai terbangun dari tidur saya (kesalahan mungkin terjadi antara pak pilot atau landasan bandara minangkabaunya saya tak tahu, akhir kata kami selamat! Hore).

Bandara Internasional Minangkabau (disingkat BIM), salah satu bandara indah di Indonesia dengan memadukan arsitektur modern dan kearifan lokal.

Janjinya, salah satu sahabat saya, saat duka (karena saat senang saya jarang ingat saya kawan satu ini), bung Kurnia Hidayat akan menjemput dan mengantarkan saya ke tujuan, namun janji tinggal janji, salah satu kebiasaan Ajo Dayat ialah menepati waktu, dengan alasan baru bangun Ajo tega membiarkan saya duduk di kantin bandara sambil minum teh panas selama 2 jam, bahkan Mission Impossible IV: Ghost Protocol yang saya tonton sambil menunggu Ajo, habis saya tonton karena lamanya kawan itu datang, padahal seingat saya rumahnya ada di belakang bandara (okeh bukan di belakang landasan, tapi arah belakang kurang lebih 20 menitan lah).

Singkat cerita, akhirnya Ajo berhasil dan suskes menjemput saya ke Bandara, dan langsung tancap ke tempat tinggal kami sewaktu masih mahasiswa, sepanjang perjalanan saya pangling jalan by pass tidak seperti yang saya kenal sepertinya wacana pemerintah Sumbar dan Kota Padang untuk memindahkan pusat kota dan pemerintahan bukan omong kosong jalan di perlebar, sebagian tanah sudah bisa digarap dan perataan, lumayan juga untuk sekelas Padang.

Suasana kontrakan kami tidak berubah, ibuk kost yang biasa disapa onang masih tetap terlihat tua namun tetap enerjik, luar biasa untuk orang seusia beliau masih tetap enerjik bercerita dan bergosip, onang masih tetap bercerita dengan bahasa minang yang kadang orang minang saja tidak mengerti apa yang dia katakan, untung lah saya selain mengerti bahasa minang juga mengerti bahasa nenek-nenek. Anak ibu kost kami juga masih tetap ramah, uni-uni yang tak muda lagi dan masih tetap melajang masih ingat dengan kami.

Pembicaraan pun mengalir, dari mulai cerita tentang teman satu kamar saya si, Victor anak Bali, angkatan 2009 Ekonomi yang Wisuda tanpa bisa dihadiri orang tuanya, dan akhirnya Onang yang menggantikan, tentang Ardi Susila (2009, Peternakan), anak gunung kidul yang susah dilacak keberadaannya entah dimana dan tak kunjung wisuda, junior-junior 2010 kami Jaka, yang katanya akan menikah (susspect MBA), dan Arpen yang juga susah dilacak diduga membusuk karena maen game di Kostan tanpa keluar dari kamar.

Saat Onang asik  mengota saya tersenyum sambil menatap lirih, ingin rasanya air mata menetes mengingat kenangan di masa kuliah dulu, ketika kami angkatan 2008 saya, yeniko, sugandi, dayat, dan saddam bercerita di teras kostan (kostan kami, sering kami istilahkan Basecamp) dengan pemandangan sawah yang tidak terurus bercerita ngalur ngidul, nyaris tidak pernah membahas akan jadi dan mau jadi apa di masa depan, hanya sibuk menyinggung orang, bahas kegiatan organisasi, ataupun provokasi massa.

dari kiri ke kanan : Sugandi Pramana, M. Saddam HSB, Yeniko Prima Putra, Kunia Hidayat dan saya.
sewaktu kuliah, mereka (kecuali saya) mengambil posisi strategis di berbagai organisasi dan lembaga kemahasiswaan, Sugandi sebagai Ketua LKIM (Lembaga Kajian Ilmiah) 2 tahun berturut-turut, M. Saddam pernah menjabat Ketua DLM Fakultas dan PB V ISMAPETI (Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia), Yeniko sebagai Gubernur BEM Fakultas, dan Ketua Bidang Kaderisasi KSR PMI Unand, Dayat sebagai ketua IMAPAR (Ikatan Mahasiswa Pariaman) dan Wakil Ketua DLM Fakultas. dan Saya ? tidak sebagai apa-apa cuma penonton bayaran, pemilih bayaran dan provokator bayaran.

Misi tak resmi pertama saya telah selesai, mungkin nostalgia terlalu singkat, tapi kehangatan hati dan perlakuan baik Onang terhadap orang-orang di Basecamp itu membuat siapapun yang pernah tinggal disituh akan selalu terkenang dan menganggap Onang layaknya orang tua kami sendiri. (bersambung)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar