Sabtu, 04 April 2015

Siksaan dalam Pendidkan

Menyambung artikel saya yang sebelumnya, sejenak saya berpikir seberapa jauh dan butuhnya dunia pendidikan untuk memberikan siksaan kepada muridnya. Saya lahir digenerasi pertengahan, tidak dikatakan kolot, tapi belum dikatakan maju, saya tumbuh, besar, dan belajar di sekolah lewat lemparan penghapus papan tulis, pukulan penggaris kayu, tamparan tangan, dan makian para pengajar. Sesuatu yang tidak akan di dapatkan oleh para anak sekolah di zaman sekarang ini.

Bersumber dari orang tua saya, kekerasan fisik lumrah terjadi di zamannya, semua guru melakukannya berharap ada guru bermotivasi dan menghibur seperti Robin Williams di film Dead Poet Society, tidak mungkin di zaman ituh atau berharap ada guru yang menginsipari para muridnya untuk belajar tenggang rasa, seperti Hillary Swanks di film Freedom Writers. Semua sama, layaknya para kadet dilatih oleh tentara. Karena itu pulalah, ketika ada bekas bekas “luka perang” di tubuh saya ketika pulang sekolah, entah karena sabetan sesuatu di betis, orang tua selalu bertanya kamu salah apa di sekolah ? benar, tidak mungkin ada siksaan jika tidak ada kesalahan, lain hal jika psikopat gila. Akhirnya, malah diberikan ceramah tujuh rupa karena berbuat kesalahan di sekolah.

Bandingkan di zaman sekarang  jika itu terjadi ? banyak kasus guru yang melakukan kekerasaan dan metode siksaan dalam pengajaran berakhir dengan pemecatan, bahkan harus berada dibalik jeruji besi karena tuntunan para orang tua yang tidak terima anaknya di “lecuti”. Meskipun apapun salahnya, dengan alasan ini bukan zamannya lagi. Tak salah jika orang tua/ataupun yang merasa tua menggap generasi muda sekarang terlalu lembek.

Tiap zaman dan generasi punya tantangan berbeda, mereka pelajar tahun 70an tidak mungkin sama tantangannya dengan generasi sekarang ini, tapi saya sepakat akan satu hal bahwa bentuk siksaan fisik sangat tidak layak digunakan ketika sekolah dasar dan sekolah menengah.

Ada pengalaman buruk tentang siksaan fisik yang saya alami ketika sekolah menengah, saat itu kami sudah kelas 9 (kelas 3 SMP), dan diajar bahasa inggris oleh salah satu guru wanita paruh baya (legend lah), sebut saja ibu bunga. cara dia mengajar memberikan siksaan psikis, fisik dan mental, kedatangnya ke kelas langsung di sambut keheningan kami, tatapan matanya sanggup membuat kami mengeluarkan cairan diseluruh tubuh kami, dan yang paling tidak mengenakkannya adalah tamparan “khas” dari ibuk bunga, dengan cara menjambak rambut depan kami (agar tidak mengelak) dan memberikan 3 sampai 5 tamparan beruntun, cadas bahkan laki-laki yang tidak menangis saat dikhitan pun menitikan air mata saat menerima double slap tersebut.

Apa yang kami dapat ? tidak ada, tidak ada apa apa, karena pikiran saat itu bukan untuk belajar agar mengeri tapi belajar agar tidak “berkontak” tersebut, dan nilai kami juga aman-aman. Karena pengalaman itulah saya berpendapat, bahwa penggunanan kekerasan fisik saat pengajaran di sekolah dasar dan menegah tidak ada gunanya. Menurut saya, lebih baik memberikan serangan mental, misalnya memberikan nilai-nilai yang benar-benar selektif untuk para murid, jangan terlalu mudah memberikan nilai bagus agar para siswa tidak cepat puas.

Siksaan ke dua yang cukup terkenang di hati saya, ialah ketika mengambil mata kuliah Ilmu dan Penyakit Kesehatan Ternak oleh dosen Drh. Yuherman, PHd beliau terkenal sangat-sangat ketat dalam pemberian nilai, karakter suara beliau yang berat, sikap disiplinnya dan taat waktunya saat tinggi, tak jarang banyak mahasiswa sudah hampir dipastikan gagal dalam mata kuliah itu karena masalah keterlambatan atau kehadiran, hampir 80% yang mengambil kuliah dengan beliau berakhir dengan mengulang mata kuliah, itu lagi. Tekanan psikis, dan mental dialami, semua mahasiswa dan mahasiswa yang ingin menyelesaikan kuliahnya tepat waktu akan mengeluarkan segenap tenanga, kemampuan dan pikiran terbaiknya agar lolos dari mata kuliah. Bahkan saya yang di 4 semester sebelumnya tidak pernah belajar untuk mata kuliah apaan dengan terpaksa harus belajar ekstra bahkan membuat grup discusion dengan rekan se kontrakan. Akhirnya ? saya lulus, dengan nilai A- padahal target saya hanya C waktu itu, ketika melihat nilai itu saya langsung bersorak kegirangan, karena kepuasan tersendiri lolos dari cekaman dan siksaan psikis tersebut.

Melihat cerita tidak penting saya diatas, satu hal yang penting untuk memotivasi para anak didik adalah dengan memberikan hasil yang “selektif”. Tidak membenarkan yang salah, ataupun mengurangi yang benar, selama ini pendidikan kita terlalu baik dalam memberikan hasil, sehingga para siswa dan anak didik terlalu cepat puas dengan hasil yang diperoleh, buat mereka tertekan secara psikis, tapi jangan sampai terluka fisiknya. Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar