Selasa, 03 Maret 2015

Hari - Hari Yang Membahayakan

Ditengah gonjang ganjingnya dunia persilatan politik tanah air beberapa pekan ini, sulit mencari situasi yang lumayan kalem dari segi manapun di republik ini.

Pertama, antar sesama institusi penegak hukum berereksi satu sama lain (sebut saja KPK vs Polri), yang  untuk kali ini dimenangkan oleh sang senior sehingga timbullah bola bola salju, dan percayalah penegakkan kasus serta penyelidikan kasus oleh sang juru adil, kembali ke titik 0 (nol). karena sekarang ini para tersangka yang ditetapkan oleh sang KPK melawan balik dengan jurus sakti "Prapradilan", sang tim pengacara komjen BG pun laris bak Aqua Gelas di Padang Pasir, semua tersangka mencoba menghubungi, konspirasi dan bernegosiasi, saya yakin harga jasanya pun melambung tinggi, mungkin sebentar bapak pengacara yang menabrakan Lamborghininya itu pun bakal tersaingi.



Panas politik dalam negeri, politik luar negeri juga tak kalah membara sejak Sang Presiden kita dengan lantang untuk "Mengeksekusi Mati Para Gembong Narkoba", sontak saja belasan narapidana yang terkena hukuman mati karena kasus narkoba mulai grasak grusuk, banyak dari mereka warga negara asing, membunuh warga negara asing di belahan bumi manapun adalah tindakan terkutuk yang membahayakan hubungan diplomatik antar negara. 

Beberapa narapidana sudah di eksekusi, salah satunya dari Brazil, bahkan entah karena dendam atau memang teknis yang salah sang Duta Besar kita di Sao Paulo tega dipermalukan oleh pemerintah Brazil, sikap tegas Kemenlu, tarik Duta besarnya. Lain di Brazil lain di Australia, belum di eksekusi sang perdana menteri sudah panik tak menenentu.

Aneh bin Ajaib, Sang Perdana Menteri negeri kangguru mengungkit ungkit bantuan 1 Milliar Dollar Aus (10 Trilliun Rupiah) dari para kangguru untuk bantuan bencana Tsunami Aceh 2004. Kampretnya, Sang Perdana Menteri  belum menjabat saat itu, malah ungkit-ungkit kebijakan luar negeri diwaktu dahulu ini ibaratnya wak maryadi bangun rumah tapi datang wak labu ditempatinya. Hal ini disambut amarah oleh sekejab masyarakat Indonesia yang memang gampang tersulut emosi padahal biasanya juga pada lupa kalo punya hutang ataupun malas bayar saat punya hutang tapi gituh disuruh bayar utang 10 Triliun malah pada semangat (aneh). 

Munculah gerak gerakan Koin Untuk Australia ataupun Koin untuk Abbot di Negara ini, awalnya saya pikir ini sangat berlebihan dan tidak realistis untuk mengumpulkan uang 10 Triliun dari uang recehan. Hitung-hitungan saya jika 200 juta masyarakat indonesia yang patungan mengumpulkan uang 10 Triliun maka masing-masing harus mengumpulkan 50rb. Itu uang yang sangat besar untuk sebagian rakyat indonesia. Tapi pesimis saya berubah, setelah kasus DPRD DKI vs Ahok dimulai ada 12.1 Triliun dana siluman tak jelas yang muncul, pikiran saya jika 1 Provinsi bisa punya 10 Triliun Dana Siluman rasanya kalo cuma bayar hutang ke Australia cuma masalah Taik Burung saja.

Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar