Minggu, 15 Februari 2015

Mengapa Orang Minang Tak Bahagia ?

Saya bukan orang minang, tidak punya saudara minang ataupun beripar dengan orang minang, namun saya bisa bertutur minang dengan fasih mungkin yang terfasih dibandingkan dengan seseorang yang juga bukan orang minang. saya menghabiskan 4.5 (dibaca : empat setengah) tahun hidup saya tinggal di Sumatera Barat, Kota Padang tepatnya di daerah Kampung Dalam Kec. Pauh. Jika ada yang bertanya kenapa saya bisa berada disana ? saya bukan sedang berdagang, bukan juga sedang mencari bibit untuk keturunan tak lain tak bukan hanya sekedar kuliah. Jika ada yang bertanya lagi, kenapa saya rela jauh - jauh kuliah ke Padang, padahal saya tinggal di kota nomer 3 terbesar di republik ini ? sulit dijawab, anggap saja saya khilaf.


Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil survei indeks kebahagiaan masyarakat yang menempatkan Sumatera Barat pada urutan tiga terbawah setelah Papua dan Nusa Tenggara Timur 

Hampir seluruh manusia yang aktif di dunia maya dan jagad sosial media sontak terkejut ketika berita ini rilis, hanya dua belahan dunia itu saja sementara kubu elektronik media sementara sedang sibuk dengan galau nya Sang Presiden. Marah, Geram, Emosi itu hampir terpancar dari para pembaca yang mungkin berdarah minang, tinggal di daerah minang, ataupun bersuku minang, Bagaimana tidak ? provinsi yang berslogan "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" dianggap menjadi salah satu provinsi paling tak bahagia di Indonesia.

Meski hanya sebatas menuntut ilmu, menurut saya pribadi ada beberapa hal yang membenarkan dan juga mengakibatkan hasil survei menjadi seperti ini

Alasan Pertama,  Iklim Investasi yang Lemah. contoh mendasar saja, sulitnya usaha-usaha berbasis entertaiment yang muncul di Padang, misalnya Cinema 21 atau Megablitz (Bioskop). Bioskop di kota Padang sangat tidak kondusif untuk menonton film bermutu, selain film yang selalu ketinggalan (contoh : jika di Medan sudah tayang Ketika Cinta Bertasbih, maka di Padang mungkin masih Ayat Ayat Cinta), bioskop yang ada lebih identik dengan kegiatan kemesuman ketimbang menontonnya, melihat bioskopnya seperti bioskop dijaman 1980an dengan bau pesing disudut sudut ruang. Akibatnya anak muda minang yang ingin melek teknologi dan menikmati hiburan jadi tidak bahagia sehingga ketika BPS mensurvei mendapatkan angka seperti itu. Untunglah di penghujung 2012, Bisnis Karoke Inul Vista muncul di Padang, sehingga sedikit memperbaiki istilah kemesuman di kata "karoke" di sana, dan juga menambah gaul anak muda Padang pastinya.

Alasan Kedua, Ambisi, Keinginan dan Merantau. Kepri hanya berjarak 45 menit dari Bandara Minang Kabau, Padang (jika anda menggunakan pesawat jika naik angkutan lain mampuslah ntah kapan sampek nya), menurut BPS Kepri adalah provinsi yang paling bahagia di Indonesia. dan tahukah anda ? bahwa Batam (salah satu daerah di Kepri) ialah favorit para perantau di nusantara, hampir semua para penduduknya merupakan perantauan, penduduk aslinya ? saat disurvei mungkin mereka sedang melaut mencari ikan.

Lelaki minang terkenal perantau, dan terkenal sangat elok, sukses dan ahli dalam dunia perdagangan. Artinya, saat survei dilakukan mungkin uang dari perantauan belum dikirim ke keluarga. (ALASAN MACAM APA NI ?). Okeh, kita misalkan seperti ini KEPRI diisi oleh para perantauan yang ingin mengadu nasib lebih baik, artinya mereka secara tidak langsung sudah berpuas diri jika kehidupannya sudah sedikit lebih baik dari tempat asalnya. Mungkin, rendahnya angka kebahagian masyarakat Sumatera Barat disebabkan oleh masih adanya ambisi ataupun keinginan keinginan yang belum tercapai artinya sekalipun sudah memenuhi kecukupan hidupnya tetapi belum puas. bisa jadi ketika di Kepri sudah bahagia masyarakatnya ketika memperoleh pencapaian tertentu namun jika di Sumatera Barat dengan pencapain yang sama dengan provinsi lain tetapi belum puas. Sekedar Catatan : di Kepulauan Riau merupakan salah satu destinasi perantauan minang terbanyak di nusantara. artinya jumlah suara dari Kepri mungkin diwakili oleh orang minang.

Alasan Ketiga, dari norma Agama. bisa jadi masyarakat Sumatera Barat kurang bersyukur dengan pencapaian yang ada.

Ini lah beberapa alasan yang mendongkrak nilai persentasi indeks kebahagian Provinsi Sumatera Barat. Bahagia itu sangat relatif, sulit mungkin menilai bahagia atau tidak bahagia nya suatu manusia berdasarkan angka. jadi jangan terlalu dibawa serius hasil survei, toh mungkin  BPS sedang tidak ada kegiatan saat itu.


 *tulisan ini untuk rekan-rekan di Base Camp Onang 2008-2013, terkhusus untuk Sugandi Pramana, Kurnia Hidayat, dan Yeniko*








Tidak ada komentar:

Posting Komentar