Sabtu, 29 November 2014

Surat Untuk Presiden

Tulisan ini terinspirasi dari keputusan kontroversial bapak presiden kita Joko Widodo, terkait subsidi dan program kartu – kartunya, agar bahasa lebih mudah dipahami saya tidak menggunakan bahasa baku, kali ini saya bertutur sesuai dengan bahasa setempat saya. Mudah-mudahan pembaca gagal paham.

Dari mana sebaiknya kita mulai, okeh.. begini pak presiden saya buat tulisan ini gag ada berharap bapak baca, Cuma sedikit menyuarakan suara hati saja bukan aku gag setuju bapak hapus subsidi bbm, ataupun bukannya aku setuju bbm di subsidi sekali lagi pak ini Cuma suara hati aja, ganjel kali rasanya mudah2an bapak baca, kalo pun bapak gag baca minimal penggemar bapaklah yang baca.

Perkenalkan pak, nama saya isdarmady syahputra ritonga, panjang kali  yah pak ? biar akrab bapak bisa panggil ady saja, kawan-kawan ku kerja kadang manggil madun, kalo jaman  kuliah aku dipanggil putra, kadang is, ada pulak yang ritonga, waktu di SD ampe SMA aku dipanggil isdar. Mungkin bapak bertanya dalam hati kenapa satu manusia punya lebih dari 6 panggilan ? jawabannya pak, dari dulu saya sering buat masalah, bukan eksekutor tapi para pemikir dan pemain di belakang layar, tapi  bukan criminal pak, Cuma isu-isu dalam perbedaan pendapat saja.

Saya berusia 24 tahun, sudah 1 tahun 7 bulan sejak saya lulus kuliah saya menjadi karyawan swasta untuk posisi supervisor breeding farm di salah satu perusahaan breeding ayam potong di sumatera utara. Oh iyah, bapak tau kan gimana pekerjaan saya ? kalo gagal paham, coba bapak tanya sama staff ahli bapak yang di bidang peternakan, kalo dia gag tau pak, pecat saja pak… gantikan saya, telpon aja atau kirim email biar saya langsung ke istana Negara, jangan pake psikotes pak, langsung interview aja.

Pak Jokowi yang luar biasa, rasanya pak udah lewat sepekan juga bbm, gag sangka kali aku pak, pas bapak umumkan jam 9 malam tanggal ah.. lupa, sebenarnya sudah tidur aku pak maklum pak capek kali aku bekerja, tiba-tiba terbangun jam 11an mendengar jeritan lelaki tak lain adalah rekan kerja ku, dia mau balikkan kunci kereta (kalo bapak pernah ke sinabung kemaren, kereta itu istilah sepeda motor di sumatera utara), biasanya jam segitu dia pulang berjudi, dia menjerit “bbm naik, mampos kita, gaji segini-gini aja, hidup makin susah, kaco kali presiden ini” langsung bangun aku pak, ku cek blackberry ku ternyata sudah heboh duluan, naik dua ribu, dalam sekejap bapak langsung dibuat jadi meme, heboh kali memang rakyat republik ini



kalo ku ingat-ingat aku memang cuek orangnya pak, udah 2 kali semenjak aku jadi karyawan harga premium naik, kali ini juga sempat aku emosi, emosi kali pun hidup sudah semakin sulit kurasa apalagi setelah naik ini pasti makin parah, aku gag keberatan bbm naik kalo bisa pun naik setinggi-tingginya tapi satu yang aku gag mau naik, jangan harga barang barang pokok seperti beras, gula, atau sembako ikutan naik asal bapak tau ajalah, memang bbm indicator dan tumbal dari semua kenaikan harga, tapi yang kulihat sekarang ini pak masyarakat yang saling “bunuh” menaikan harga seenak kampret mereka, alasannya BBM naik, bahkan jam 11 malam, 2 jam setelah pengumuman bbm naik, pagi-pagi cerita sama anggota aku di kandang sudah ngeluh katanya harga-harga udah gag karuan. Padahal mungkin saja barang diwarung barang semalam, bak seorang pemain bola yang berhadapan dengan gawang kosong pak, masyarakat pun gag mau juga kehilangan momentum.

Berhari – hari juga pak, aku mencoba buat hitung-hitungan untuk bulan desember nanti, bagaimana mengarungi hidup nanti, gajiku gag besar pak sekitar 2,8-3 juta dengan gaji segitu sudah setengah tahun aku coba menabung 1 juta perbulan dari gajiku untuk mewujudkan mimpiku nanti di masa depan, seperti menikah, punya mobil, atau jalan-jalan ke bali nanti, terdengar klise pak, alhamdulilah pak meski kecil, sebenarnya cukup juga untuk hidup sebulan, jadi jangan kelen ketawa kalo buruh nuntut kenaikan upah, wajarlah buruh juga punya mimpi sama seperti kalian, dibalik semua tagihan, hutang, biaya hidup, kontrakan rumah, dan cicilan motor kami punya mimpi – mimpi kecil dibalik pundi-pundi rupiah yang kami sisihkan untuk mencoba mewujudkan mimpi kami pak dan pasca kenaikan harga bbm ? sulit sepertinya menyisihkan kepingan rupiah untuk ditabung.

Kalo bisa dikatakan, golongan kami-kami inilah yang terpukul pak, para karyawan terutama yang menggunakan mode transportasi yang bekerja, yaitu golongan yang berada tidak di tengah tidak juga dibawah, yang katanya pengeluarannya pas-pasan tapi sanggup bergaya hidup mewah.
Meski aku secara tidak tegas menolak kenaikan harga premium dan solar, tapi ku rasakan juga ada sedikit manfaatnya pak, setidaknya untuk sepekan ini ku tengok jalan di daerah lokasi ku kerja sepi pak, gag banyak kali anak-anak remaja tanggung keliling-keliling kota gag jelas, oh iya pak belom ku  kasih tau, aku kerjanya gag di medan, lokasi ku kerja di Tanjung Pura, Langkat kira-kira kalo ngebut naek kereta 1 jam sampe lah, kalo naik mobil bisa 2 jam atau 3 jam karena macat di kampung lalang, oh iya sekalian pak kalo ke medan lagi jalan-jalan juga kesini, bapak bisa liat pajak kampung lalang (pasar) entah kayak apa bentuknya siapa tau bapak dapat inspirasi biar lebih tertata, tapi ingat pak medan bukan solo dan Jakarta, kalo bapak mau coba ngolah itu pasar takutnya malah bapak kena olah, maklum BATAK (banyak tak tik). Jangan lupa juga pak, bapak jokowi naikkan harga pas bulan-bulan tua, ku rasa nanti pas tanggal 1 jalan sudah padat lagi.
Tapi jangan salah pak, ibarat pedang bermata dua berkurangnya anak-anak remaja tanggung yang berjalan-jalan ataupun masyarakat yang jalan-jalan sore mengurangi juga pendapatan para tukang gorengan, es dawet, es kelapa muda, tukang bakso bakar, jagung bakar, mereka yang dalam bekerja tidak menggunakan bbm malah terasa dampaknya karena tidak ada lagi yang singgah ke dagangan mereka, akhirnya gulung tikar nah loh ?

Pembicaraan tentang bbm tidak akan pernah ada habisnya, euphoria penolakan juga cepat atau lambat akan berakhir dan percaya lah setelah bulan baru dan gajian nanti juga jalanan akan kembali ramai, akan terbiasa kembali dan mereka yang mengatas namakan membela kepentingan rakyat juga bakal lupa dengan rakyat miskin yang “katanya” dibelanya.

Pak jok, anda luar biasa dan binasa, mungkin bagi sebagian orang menaikan bbm tanpa tetek bengek dpr bukti anda berani (penggemar bapak kek nya).

Saya pun jujur tidak terlalu berpengaruh, karena makan saya sudah ditanggung dan saya tidak terlalu sering menggunakan bbm paling hanya tak lebih 1 liter 1 minggu jika saya tidak pulang ke medan. Tapi pak jok, tidak semua orang seperti saya.

Ada mungkin juga orang yang bekerja dengan sepeda hanya untuk mendapatkan 10rb atau 20rb sehari, tidak menggunakan bbm pak, tapi langsung terpukul dengan kenaikan harga bbm, seperti ku katakan di paragraph awal pak, masyarakat langsung tikam menikam harga, alasan berbagai macam intinya karena harga bbm naik naik pak. Dan kalkulasi saya sebagai penggemar warung-warung kecil, dengan gaji 10rb bisa makan dengan :
-          Tempe 1 papan : 1rb
-          Minyak goreng ¼ kilo : 3rb
-          Telur 1 butir : seribu lima ratus
-          Kangkung : petik sendiri
-          Beras seperempat kilo : 3000 (kalo ada yang jual)

Pasca kenaikan bbm :
                Mie instan paling murah jangan merek indomie dan mie sedap usahakan merek lokal dan masak di rebus saja (gag beli minyak goreng).

                Dan sekian posting yang sangat luar biasa, bapak beruntung sekali saya pikir dahulu pak di zamannya presiden sebelumnya, jika pemerintah menaikkan harga bbm ataupun masih wacana saja, seluruh media bersatu padu menghujam, memaki, dan apapun caranya tanpa memberi kesempatan pemerintah di zaman itu untuk menjelaskan kenapa dan mengapa ? di zaman itu, aksi demonstrasi terus diliput media, terserah berapapun jumlah ataupun siapa yang melakukannya. Beruntungnya bapak, kayak ada konspirasi besar pak, pas bapak naikkan harga bbm, media terpecah sebagian cendrung membela dengan opini-opini bahwa masyarakat kecil tidak berdampak kenaikan harga bbm, dan terus banyaknya konflik-konflik, kegagalan TIMNAS di Piala AFF juga bentuk pengalihan isu kenaikan harga bbm, agar daripada menghujat pemerintah teralih jadi menghujat timnas dan pssi. Siapa tau ?
               
Sumber gambar :
http://dbagus.com/wp-content/uploads/2014/08/kenaikan-harga-bbm.jpg




Tidak ada komentar:

Posting Komentar