Selasa, 28 Oktober 2014

Antara Breeding dan Broiler

Hampir dua tahun saya berkarir sebagai Supervisor Breeding Farm di salah satu perusahaan peternakan skala nasional di kota Medan, dan selama itu juga saya sedikit speechless ketika terlibat pembicaran dengan masyarakat dan warga dengan bidang kajian ilmu yang berbeda, dan tingkat pemahaman yang berbeda. Jika bisa direka ulang mungkin akan terjadi pertanyaan seperti ini  :

                Saudara                : “udah kerja kau jang ?”

                Saya                       : “sudah, udah lama lah.. “

                Saudara                : “kerja apa kau ? kuliah apa kau dulu ?”

                Saya                       : “ aku supervisor breeding farm, dulu kuliah peternakan di padang”

                Saudara                : “tapi kata mamak kau, kau kerja di ternak ayam ?

                Saya                       : “iyah, tapi bukan ayam kayak biasa.. kayak pengawas gituh, cek kualitas control dan produksi ayamnya ?”

                Saudara                : “jadi bisa aku ambil ayam samamu ? berapa harga di kandang ? sekilo berapa ? seekor berapa ?”
               
Kemudian terdengan suara ayah dari kejauhan “dia ngurus ternak ayam bertelor”. Sial bahkan orang tua sendiri juga gag tau anaknya sebenarnya kerja apa.

Saudara      : “bisa lah kita jualan telor ? susah cari telor sekarang”

Saya                       : “bukan, bukan, Ayam yang ku urus memang bertelor, telornya ini nanti di tetaskan jadilah anak ayam, nah anak ayamnya ini dibesarkan sama peternakan dijual jadi ayam potong, jadi yang ku pelihara ini singkat ceritanya ialah bapak dan mamaknya si ayam potong, makannya namanya breeding atau pembibitan” jawaban yang menurut saya mudah dipahami dan dicerna oleh level pendidikan atas sampai bawah.

Saudara                : “o……. gituh” dan saya yakin lawan bicara saya sebenarnya tidak paham dengan penjelasan saya dikarenakan setelah percakapan diatas, hal yang sama dan pertanyaan yang sama terulang lagi.


Sebenarnya tidak salah, memang orang awam sulit membedakan klasifikasi jenis-jenis ayam, mungkin karena tak perduli hanya perduli dengan hasilnya saja (kenapa harus peduli juga ?) dikarenakan tuntutan pasar, dan untuk membungkam serta memberikan pengertian kepada masyarkat saya akan menjelaskan secara ringkas dan sederhana disertai juga dengan sedikit gambar agar lebih paham:


Ayam Broiler

pemeliharan dengan kandang panggung, sepertinya peternakan rakyat
Sumber : Google.co.id
 Menurut Anggorodi (1985) Ayam broiler adalah ayam pedaging yang dipelihara hingga 6 sampai 13 minggu dengan bobot hidup dapat mencapai 1,5 kg pada umur 6 minggu.

Itu Literatur usang, kenyataanya sekarang (di tahun 2014), bisa dicapai 1,5 kg dalam waktu 30 Hari, ataupun dapat dipanen sesuai berat yang diingin dikarenakan setiap daerah punya permintaan daging dan prilaku konsumen berbeda – beda (misalnya di Padang, cendrung lebih dominan menyukai ayam broiler di potong jadi 4).



Ayam broiler bersifat final stock (atau keturunan terakhir), broiler diciptakan tuhan hanya untuk di ambil daging, mereka tidak diberikan kesempatan lain untuk mengembangkan karirnya di bidang lain, mereka tak punya pilihan lain, andaikata pun diberi kesempatan hidup lebih panjang oleh tuannya (peternak) mereka Cuma mampu menambah bobot badan, menghabiskan makan tanpa mampu berkembang biak, hasrat untuk bersetubuh saja mungkin tidak ada dalam renungan sebelum tidur saya, terkutuklah mereka yang merekayasa mahkluk  imut ciptaan tuhan ini, dibuat tidak bisa berkembang biak bahkan hasrat untuk lawan jenisnya pun tidak ada, bahkan menurut informasi para bedebah yang tidak punya pri-kebinatangan yang mengataskan nama kan dirinya ilmuan pernah merekayasa ayam tanpa bulu. TANPA BULU! Bisa anda bayangkan ayam lahir tanpa bulu ? besar tak berbulu ? bulu memang tidak dibutuhkan tapi pikirkanlah, perasaan para ayam – ayam tersebut, malu ! bayangkan saja terpidana mati tapi tidak diberikan pakaian sebelum eksekusi matinya ? lebih baik dia mati saja.


Ayam Layer

                Ayam Layer bisa disebut juga ayam petelur.  Menurut  Siregar dan Sabrani  (1986) Ayam petelur merupakan jenis ayam ras yang sangat efisien dalam menghasilkan telur. Bangsa ayam yang termasuk kelas ini dapat dikenal karena ayam itu mempunyai ukuran badan yang kecil dan aktif, mudah terkejut, cepat dewasa dan tidak memiliki sifat mengeram, kebanyakan atau hampir semuanya mempunyai kaki yang bersih (tidak berbulu) dan cuping telinganya berwarna putih. (Kembali lagi literature lawas).

Peternakan Layer. Sumber : Google.co.id
Untuk memeliharan ayam layer tidak hanya dibutuhkan skill, keterampilan dan pengatuhan tapi juga di butuhkan CINTA. Yah, cinta = C.I.N.T.A.

                Kenapa cinta ? cinta yang tulus menghasilkan kesabaran dan kekuatan untuk bertahan. Yah, pemeliharan yang makan waktu lama untuk menunggu hasil yang diperoleh, resiko yang cukup besar karena perubahan iklim serta resiko hantaman berbagai penyakit menjadi tantangan tersendiri bagi para peternak.

                Ayam layer juga bersifat final stock. Mereka hidup hanya untuk bertelur dan bertelur ingat hanya untuk yang betina, meskipun namanya ayam petelur mereka tetap ada jantan dan betina, yang betina dipakai untuk bertelur dan yang jantan biasanya dijadikan ayam pedaging dengan masa pemeliharaan jauh lebih lama serta rasa daging yang berbeda dengan ayam broiler (tipe daging).

                Sebagai catatan pembaca, ayam layer telurnya tidak dapat ditetaskan (karena sifat ayam yang sudah final), dan ayam layer yang sudah habis produksinya atau tidak menguntungkan lagi antara jumlah  uang yang dikeluarkan dengan telur yang dihasilkan maka akan berakhir di kandang – kandang penjegalan ayam. Intinya, kembali jadi ayam pedaging meski bukan daging yang diharapkan.

Ayam Breeder

                Ayam breeder, atau breeding bisa juga dikatakan ayam bibitan. Jika dikatakan ayam breeder broiler maka diternakan untuk mendapatkan bibit broiler begitu juga jika tipe ayam breeder layar maka diternakan untuk mendapatkan bibit layer.

dokumentasi pribadi
                Untuk pemeliharan ayam breeder, tidak hanya butuh sekedar cinta tapi butuh banyak hal lain, intinya semua kegiatan harus sesuai standar yang berlaku akses ke kandang juga di batasi atau tidak untuk umum. Proses untuk ke kandang harus melewati kamar – kamar sterilisasi untuk menjadi pekerja/pegawai bebas dari hama/penyakit yang dapat membahayakan ayam breeder. Contoh saja di tempat saya kerja harus sampai 2 kali mandi, bisa dibayangkan donk bagaimana halusnya kulit saya.

dokumentasi pribadi
Ayam breeder dipelihara beriringan dengan persentase jantan dan betina yang diatur sesuai ketentuan dan kebutuhan, misalnya 1 jantan untuk 12 betina. Seleksi jantan yang ketat dan bagus sangat berpengaruh terhadap penetasan yang dihasilkan,, bayangkan pembaca andaikata ada 1 saja jantan yang lemah syahwat maka 12 betina kurang belaian, bayangkan kalo 10 jantan yang impoten ada 120 betina kesepian.


                Ayam breeder bersifat parent stock (artinya induk dari final stock dan anak dari grand parent stock). Intinya kualitas breeder yang baik dan unggul menentukan kualitas final stock.

dokumentasi pribadi
Sekian Posting saya, maaf jika semakin tidak paham.

SALAM CINTA DARI UJUNG KANDANG

            

                

4 komentar:

  1. Pengen dong memperoleh telur siap tetas broiler, biar bisa d tetaskan sndiri. Sayangnya breeding farm ngga ada ngejual bebas telur utk d tetaskan sndiri oleh umum. Harus berbentuk DOC.

    BalasHapus
    Balasan
    1. secara tidak sengaja, kami pernah menetaskan telur cull yang beratnya tidak standar... :)

      Hapus
  2. Hasil.y apa mas? Apakah setelah menetas keluar anak dynosurus? Krn saya jg prnh menemukan ayam broiler bertelur n telurnya cm sebesar telur ayam kampung lbh kecil sedikit (krn dl ortu pengusaha ayam potong shg sy mengambil sepasang ayam broiler jantan n betina utk di pelihara)

    BalasHapus
  3. Bagaimana menghasilkan grandchild stock untuk dijadikan bibit indukan baru? Karena bapak bilang parent stock hanya menghasilkan final stock

    BalasHapus