Sabtu, 14 November 2009

Dampak Mafia Peradilan

KPK, Kejaksaan Agung dan Polri adalah 3 institusi yang saling berkesinambungan dimana baik dan buruk bangsa ini tergantung dari ketiga institusi tersebut. Namun, dari pengamatan saya sebagai mahasiswa tingkat 2 di jurusan ilmu peternakan yang memang tidak ada hubungan dengan perihal “HUKUM”, “POLITIK” atau semacamnya tapi kami di fakultas peternakan punya motto, “Bisa disegala bidang, apalagi di bidangnyanya”.

Secara garis besar saya belum paham apa permasalahannya, dan jika ditanya kepada saya ? siapa yang benar ? saya selalu berkata wallahualam dan pihak terkait yang tau. Tapi yang jelas kita patut mengacungkan jempol kepada media-media di indonesia yang menjadi poros informasi bagi masyarakat, meskipun ada sebagian media yang terlalu provokatif dan malah membuat binggung masyarakat kita.

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa yang disorot dalam belakangan hari ini ialah MAFIA PERADILAN, sebuah rahasia umum dari bangsa ini dimana “katanya”
hukum dapat dibeli dengan uang (kalo memang benar, berarti perkataan saya “dimana harga diri lebih murah daripada kejujuran ada benarnya). Yang, perlu kita ketahui sampai mana efek dan dampak dari mafia peradilan tersebut ?

Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antaramu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian harta orang lain dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (Al-Baqarah: 188).

Sebuah peringat yang jelas dari Allah swt, yang seharusnya HARUS selalu dipikirkan oleh para mereka (oknum) yang sering ataupun pernah bersengketa dipengadilan. , Sebab mereka yang memakai suap, tekanan penguasa atau massa, kemampuan bersilat lidah, atau memperalat dalil dan aturan hukum guna memperdaya hakim dan lawan sengketa, kelak akan diazab di akhirat

Nabi Muhammad SAW bersabda: ''Siapa pun yang merampas tanah orang lain secara zalim, walaupun hanya sejengkal, maka Allah akan mengalunginya kelak di hari kiamat dengan tujuh lapis bumi.'' (Hadis shahih riwayat Bukhari dan Muslim).

Jika perampasan sejengkal tanah saja akan disiksa seperti itu, tak terbayangkan oleh kita betapa pedih siksaan yang akan kita terima jika yang (mungkin) merampas hak milik ratusan atau ribuan orang, bahkan nyawa mereka, lewat keputusan/penetapan pengadilan? Sayangnya, banyak diantara kita tidak menjadikan keimanan sebagai pemimpin dan kaidah berpikir. Mereka lebih memilih membeli kenikmatan sesaat dengan menjual harga diri dan kebahagiaan abadi.

Apalagi, hukum yang ada tidak memberi peluang pengoreksian kesalahan proses peradilan yang disengaja aparat berwenang, kecuali sebatas pemberian sanksi administratif. Maka, kala ulama, tokoh masyarakat dan militer, pers, dan rakyat (kita) yang tahu tentang hal tersebut terkadang cenderung mendiamkan atau takut terhadap mafia peradilan, kian beranilah mereka mempraktikkan kezaliman. Kian lama kian luas kerusakan, hingga sesuatu yang tidak masuk akal pun terjadi, seperti menyita aset-aset orang yang dituduh mencemarkan nama baik, memaksa memvonis orang tanpa bukti yang sah dan meyakinkan, mengadili orang miskin karena dituduh mencuri sandal bolong, dan lain-lain.
Dikhawatirkan, hal ini kelak akan mampu menyeret makin banyak orang untuk berlaku serupa hingga akhirnya akan timbul opini umum bahwa praktik mafia peradilan adalah hal biasa, dan harus dikerjakan agar menang di pengadilan. Ini mirip wabah korupsi. Ketika kemungkaran telah tersebar, apalagi dianggap biasa, maka tibalah janji-Nya menghancurkan negeri sehancur-hancurnya (lihat QS Al-Israa, 17:16).

Maka jelaslah!!!
Bahwa praktik mafia peradilan tak Cuma berakibat buruk bagi pelaku dan korbannya, tapi semua orang, baik di dunia maupun diakhirat. (I.S Ritonga)

Yang baik datang dari Allah swt dan yang buruk datang dari diri saya sendiri



5 komentar:

  1. benar sobat, kapan ya semuanya bisa menjadi orang yang adil dan orang yang baik ya?

    BalasHapus
  2. mungkin sampai akhir dunia ini kelak.. bisa jadi tanda kiamat adalah saat manusia jadi baik...

    BalasHapus
  3. sebaiknya kita tetap pada garis yg di tentukan Allah.. asal semua orang bisa menjaga hati dan mengendalikan nafsu... dunia akan damai...

    BalasHapus
  4. @Ali Mas'adi : intinya NAGFSU tuh yah mas....

    BalasHapus
  5. benar juga prend, isi artikelnya mantab...
    kayaknya semua yang ada diindonesia itu aneh, hukum saja bisa dijualbelikan...
    mungkin sudah hilangnya ilmu Akhlak....

    BalasHapus