Minggu, 19 April 2009

Mie Aceh di Padang..

Para sobat blogger sekalian yang saya hormati dan saya sayangi serta saya cintai (mmmuachhh), hari ini adalah hari bersejarah bukan hari yang sangat – sangat bersejarah bagai gue, bayangkan setelah ± 8 bulan di padang, untuk pertama kalinya gue makan makanan kesukaan gue, yaitu MIE ACEH. Luar biasa perjuangan gue mencari dimana makanan ini dijual, gue hunting sana-sini, gue tanya sana-sini, gue nungging sana-sini (canda dinks), yang jelas perjuangan berat gue mungkin bisa disamakan dengan perjuangan berat Bung Tomo.


warung mie acehnya


suasana warung mie aceh di padang

Berikut ini hasil wawancara Gerobak Anak Wisma (GAK) bersama Isdarmady Syahputra Ritonga (saya sendiri) yang merupakan pakar di jurusan mie aceh :

Tentu menjadi pertanyaan ? mengaapa abang sampai segitunya dengan mie aceh ? apakah mie aceh memakai obat2an terlarang ? apakah mereka memakai susuk?

Begini jawabannya :
Menurut saya, Mie aceh itu enak dilidah siapapun baik suku batak (seperti gue), minang, melayu, betawi, jawa, sunda, ambon, aceh (ya iyalah), tiong hoa dll. Mungkin maria ozawa miyabi jika ditawari mie aceh akan meninggalkan pekerjaannya dan melamar menjadi koki mie aceh untuk berjualan di jepang. Mengapa bisa begitu karena mie aceh itu PKS (pakan kita semua), (maksa banget yah ?)

Terlepas dari gosip-gosip miring dan mendatar tentang mie aceh, misalnya ditaburi daun ganja, atau dikasih butir2 biji ganja atau yang paling aneh, diberi bumbu penyedap berupa keringat yang masak mie aceh (hueekkk) tapi gosip itu tidak bisa dibuktikan, bahkan mie aceh semakin enak dan mantap (promosi neh)...


Menurut abang apakah rasa mie aceh di medan sama dengan mie aceh di padang ?

Jawaban :
Menurut saya, rasa mie aceh di padang dan di medan sama saja, hanya ada perbedaan sedikit2 saja, seperti di padang penggunaan daging condong sudah drebus, kalo di medan daging di mie, langsung digoreng. Perbedaan mencolok mie aceh di medan dan di padang adalah masalah harga, di padang, harga mie aceh biasa mencapai angka Rp 10.000, jauh melampaui harga eceran tertinggi mie yaitu Rp. 6.000 (mang ada wak ?) sedangkan di medan harga mie aceh standar berkisan antara Rp. 5000 – 7000, mengapa harga di padang bisa begitu mahal daripada di medan ? hal ini bisa disebabkan oleh jumlah outlet yang menjual produk sejenis (mie aceh) di medan sudah banyak, sedangkan di padang, bisa dihitung dengan upil.


Apakah mie aceh bisa dijual oleh orang batak ???

Jawaban :
Sebagai orang batak tulen saya akan menjawab, orang batak umumnya sangat membanggakan marganya, contoh : ada PT. RITONGA di p.sidimpuan, dengan melihat namanya kita tau yang punya perusahaan itu pasti marga ritonga. Bisakah saudara bayangkan jika orang batak punya restaurant mie aceh, contoh : MIE ACEH SIMANJUNTAK atau MIE ACEH RAJA GUK GUK, saya rasa tidak lucu sekali.

mie aceh yang suedep banget dipadu dengan teh manis dingin,,,,

ngiler wak ????

Apakah abang berniat mencari pendamping orang aceh agar bisa makan mie aceh setiap saat ???


Saya katakan mungkin tidak, karena menurut pengamatan saya berkecimpung didunia mie aceh, para kokinya selalu laki-laki, bagaimana pertanggungjawaban saya dengan sang Khalik, jika pendamping saya laki – laki. Dan menurut anda apakah bisa jeruk makan jeruk ???


Sekian bang dan terima kasih

Sama sama dek…





1 komentar:

  1. wah mass alamat nya dipadang dimana???
    saya juga pengemar mie aceh...
    add FB saya mas.. sekalian tempelin alamatnya di fb saya mass...

    febryh@rocketmail.com

    BalasHapus