[Review Film][carousel][6]

Senin, 06 November 2017

Menerka Arah Ending Cerita Transportasi Online vs Konvensional

15.29
Lapar adalah salah satu tanda biologis yang dimiliki manusia yang sulit untuk di lawan selain ngantuk, dan hasrat ke lawan jenis (atau sesama jenis). Paling lebih menjengkelkan ketika merasakannya ditengah malam dan hujan deras, bisa saja yang mengalami gejala lapar mencoba mengolah bahan mentah yang tersedia di rumah tapi bagi para generasi millenial sekarang ini selain malas untuk melakukankannya namun juga berpikir visioner ke depan, seandainya memasak otomatis ruang dapur berserak dan piring serta alat-alat menjadi kotor, memasaknnya juga sudah malam apalagi membersihkannya ?.

Tanda biologis ini saya alami tanggal 4 November 2017, ditengah suasana hujan kami berempat di rumah (saya, istri, sepupu dan adik) memutuskan untuk  melakukan pemesanan via aplikasi online Go-Food pilihan kami jatuhkan ke Geprek Bensu (penasaran saja sih, gimana rasanya), kebetulan adik saya punya voucher 25rb, entah dikarenakan banyaknya orderan atau karena hujan butuh waktu lama untuk kami mendapatkan driver yang mempick up orderan kami (waktu juga sudah menunjuk jam 8 malam). Saat itu saya mendengar adik saya ditelpon oleh driver gojek hampir 10 menit lamanya, saya pikir dia digombali sama abang gojeknya ternyata yang terjadi percakapan seperti ini :

Driver : “halo, kak ada pesan ayam geprek 4 potong tanpa nasi ?”
Adek : “Iya bang, geprek bensu yang di gatsu”
Driver : “kak, kebetulan saya ini disetia budi, saya beli yang di setia budi saja gmana”
Adek  : “ya udah, gag papa bang ongkirnya gag maslaah kan ?”
Driver : “aman ongkir, kak ini pesannya pake voucer kan kak ?”
Adek : “iya bang” (adek saya saat itu mulai takut, apa si abang ini mau marah udah hujan2 beli pake voucher)
DriVer : “gini kak, kakak gag mau top up saldo go pay ?”
Adek : “gag bang”
Driver : “kak top up donk saldo go pay nya, saldo go pay ini penting banget lo kak bla bla bla.. apalagi kalo kakak laper tengah malam nanti harga ongkirnya akan naik banget kak, lebih mahal makanya kakak top up aja saldo go pay nya” penawaran dari abang ini layaknya mantan marketing perumahaan atau mantan pegawai MLM.
Adek : “gag bang”
Driver : “tolong lah kak top up, 20rb saja pun gag papa, saya udah gag punya uang tunai lagi” abang ini mulai iba adek saya mulai kasihan.
Adek : “lagi gag ada duit bang”
Driver : “ya udah mbak, ini saya beli orderannya”

Sumber : Youtube, Foto saat demo driver dikarenakan turunnya tarif tahun dan tanggal lupa
Dengar cerita ini saya kok jadi sedih, sebagai penikmat transportasi online saya mulai sadar bahwa para pengemudi berjuang setengah mati. Seandainya si abang ojek mau membatalkan orderan saat itu saya juga ikhlas, seketika saya jadi ngerasa bersalah buat orderan malam-malam saat hujan. Tapi saya juga laper, dan si abang juga mau aja. Ya udah deal kalo gituh.

Pengalaman ini kembali menyadarkan saya bahwa sebagian penduduk Indonesia yang menggunakan aplikasi online baik untuk transportasi, pesan makanan, atau antar barang sebenarnya bukan menikmati canggihnya teknologi tetapi menikmati subsidi yang diberikan para perusahaan besar tersebut. Bagi saya, di Indonesia secanggih apapun teknologi kalo di terapkan Indonesia juga gag bakal ada yang tertarik, tapi jika udah praktis, mudah, murah dan di subsidi pula. Selamat buat para perusahaan transportasi berbasis teknologi anda sudah menjadi pahlawan bagi para rakyat indonesia, kalian lah sang Ratu Adil bagi rakyat indonesia yang menantikan transportasi murah, aman, dan nyaman di Indonesia.

Terus gmana nasib para penggiat transportasi konvensional ? layaknya angkot, becak, dan taksi. Ya, sebenarnya disini peran pemerintah harus ada, inovasi gag boleh di bendung tapi juga dikasih aturan. Mungkin dimulai dari awal dahulu, atau dasar. Apakah Gojek, Grab dan Uber ini perusahaan teknologi atau transportasi, karena mereka sudah menentukan tarifnya sendiri saya juga bingung ini perusahaan apa. Biarlah pemerintah mengatur tarif yang pantas, yang menguntungkan untuk driver, tidak memberatkan untuk konsumen serta menciptakan persaingan usaha yang sehat untuk pelaku lainnya.

Bagi mereka yang antipati terhadap angkot, becak, dan taksi coba di fresh kembali pemikirannya, kita nikmati saja persaingan usaha ini dan berdoa jangan sampai ada yang mati. Jangan sampai terjadi monopoli dan para kapitalis tersebut, seandainya mereka sukses memukul mundur semua pelaku bisnis transportasi konvesional maka sukseslah mereka dan kita tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya apakah subsidi dan promo berakhir atau harga tarifnya mulai naik karena sejatinya kita hanya menikmati subsidinya bukan teknologinya.


Lapar adalah salah satu tanda biologis yang dimiliki manusia yang sulit untuk di lawan selain ngantuk, dan hasrat ke lawan jenis (atau sesama jenis). Paling lebih menjengkelkan ketika merasakannya ditengah malam dan hujan deras, bisa saja yang mengalami gejala lapar mencoba mengolah bahan mentah yang tersedia di rumah tapi bagi para generasi millenial sekarang ini selain malas untuk melakukankannya namun juga berpikir visioner ke depan, seandainya memasak otomatis ruang dapur berserak dan piring serta alat-alat menjadi kotor, memasaknnya juga sudah malam apalagi membersihkannya ?.

Tanda biologis ini saya alami tanggal 4 November 2017, ditengah suasana hujan kami berempat di rumah (saya, istri, sepupu dan adik) memutuskan untuk  melakukan pemesanan via aplikasi online Go-Food pilihan kami jatuhkan ke Geprek Bensu (penasaran saja sih, gimana rasanya), kebetulan adik saya punya voucher 25rb, entah dikarenakan banyaknya orderan atau karena hujan butuh waktu lama untuk kami mendapatkan driver yang mempick up orderan kami (waktu juga sudah menunjuk jam 8 malam). Saat itu saya mendengar adik saya ditelpon oleh driver gojek hampir 10 menit lamanya, saya pikir dia digombali sama abang gojeknya ternyata yang terjadi percakapan seperti ini :

Driver : “halo, kak ada pesan ayam geprek 4 potong tanpa nasi ?”
Adek : “Iya bang, geprek bensu yang di gatsu”
Driver : “kak, kebetulan saya ini disetia budi, saya beli yang di setia budi saja gmana”
Adek  : “ya udah, gag papa bang ongkirnya gag maslaah kan ?”
Driver : “aman ongkir, kak ini pesannya pake voucer kan kak ?”
Adek : “iya bang” (adek saya saat itu mulai takut, apa si abang ini mau marah udah hujan2 beli pake voucher)
DriVer : “gini kak, kakak gag mau top up saldo go pay ?”
Adek : “gag bang”
Driver : “kak top up donk saldo go pay nya, saldo go pay ini penting banget lo kak bla bla bla.. apalagi kalo kakak laper tengah malam nanti harga ongkirnya akan naik banget kak, lebih mahal makanya kakak top up aja saldo go pay nya” penawaran dari abang ini layaknya mantan marketing perumahaan atau mantan pegawai MLM.
Adek : “gag bang”
Driver : “tolong lah kak top up, 20rb saja pun gag papa, saya udah gag punya uang tunai lagi” abang ini mulai iba adek saya mulai kasihan.
Adek : “lagi gag ada duit bang”
Driver : “ya udah mbak, ini saya beli orderannya”

Sumber : Youtube, Foto saat demo driver dikarenakan turunnya tarif tahun dan tanggal lupa
Dengar cerita ini saya kok jadi sedih, sebagai penikmat transportasi online saya mulai sadar bahwa para pengemudi berjuang setengah mati. Seandainya si abang ojek mau membatalkan orderan saat itu saya juga ikhlas, seketika saya jadi ngerasa bersalah buat orderan malam-malam saat hujan. Tapi saya juga laper, dan si abang juga mau aja. Ya udah deal kalo gituh.

Pengalaman ini kembali menyadarkan saya bahwa sebagian penduduk Indonesia yang menggunakan aplikasi online baik untuk transportasi, pesan makanan, atau antar barang sebenarnya bukan menikmati canggihnya teknologi tetapi menikmati subsidi yang diberikan para perusahaan besar tersebut. Bagi saya, di Indonesia secanggih apapun teknologi kalo di terapkan Indonesia juga gag bakal ada yang tertarik, tapi jika udah praktis, mudah, murah dan di subsidi pula. Selamat buat para perusahaan transportasi berbasis teknologi anda sudah menjadi pahlawan bagi para rakyat indonesia, kalian lah sang Ratu Adil bagi rakyat indonesia yang menantikan transportasi murah, aman, dan nyaman di Indonesia.

Terus gmana nasib para penggiat transportasi konvensional ? layaknya angkot, becak, dan taksi. Ya, sebenarnya disini peran pemerintah harus ada, inovasi gag boleh di bendung tapi juga dikasih aturan. Mungkin dimulai dari awal dahulu, atau dasar. Apakah Gojek, Grab dan Uber ini perusahaan teknologi atau transportasi, karena mereka sudah menentukan tarifnya sendiri saya juga bingung ini perusahaan apa. Biarlah pemerintah mengatur tarif yang pantas, yang menguntungkan untuk driver, tidak memberatkan untuk konsumen serta menciptakan persaingan usaha yang sehat untuk pelaku lainnya.

Bagi mereka yang antipati terhadap angkot, becak, dan taksi coba di fresh kembali pemikirannya, kita nikmati saja persaingan usaha ini dan berdoa jangan sampai ada yang mati. Jangan sampai terjadi monopoli dan para kapitalis tersebut, seandainya mereka sukses memukul mundur semua pelaku bisnis transportasi konvesional maka sukseslah mereka dan kita tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya apakah subsidi dan promo berakhir atau harga tarifnya mulai naik karena sejatinya kita hanya menikmati subsidinya bukan teknologinya.